Biografi Munir Said Thalib

0
120

Munir Said Thalib

 

Pada tanggal 8 Desember 1965 tepatnya di kota Malang lahirlah bayi laki-laki yang kelak akan merubah sudut pandang akan keadilan di tanah air Indonesia yang bernama lengkap Munir Said Thalib anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Said Thalib dan Jamilah.

Ia memulai pendidikannya di SD Muhammadiyah 4 Batu, saat Munir menduduki bangku kelas 6 SD ia ditinggal selamanya oleh ayahanda tercinta. Namun, hal tersebut tidak menurunkan semangat Munir. Setelah ia lulus SD ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Batu. Ia dikenal sebagai seorang yang pemberani walaupun ia memiliki tubuh yang relatif kecil dibandingkan teman temannya. Yang setelahnya ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 batu.

Munir sosok aktivis yang menjunjung rasa keadilannya mulai memantapkan niatnya pada saat ia duduk di pendidikan universitas tepatnya di Universitas Brawijaya dengan mengambil Fakultas Hukum. Karena ketekunannya ia pun di percayai di Sekretariat Dewan Perwakilan Hukum dan menjadi anggota Himpunan Islam Indonesia dan ia juga dipercaya menjadi Sekretaris Al-Irsyad cabang Malang. Setelah mengenyam pendidikan yang panjang ia menunjukan keseriusannya dengan melakukan beberapa pembelaan sejumlah kasus yang ada di Indonesia dan membantu pemerintah akan investigasi dan juga tim penyusun rancangan undang-undang (RUU)  yang akhirnya lulus pada tahun 1990.

Sosok aktivis tersebut memulai karirnya menjadi ketua LBH Surarabaya Pos Malang dan melanjutkan menjadi Koor. Divisi Perhubungan dan Divisi Hak YLBHI dan menjadi wakil ketua dewan pengurus YLBHI. Pengalaman Munir menjadi aktivis membuat Munir menghadirkan keseriusannya di bidang huum dan Munir melakukan pembelaan terhadap sejumlah kasus dengan teman-temannya tergabung di LSM (Lembaga Swadya Masyarakat) Mendirikan Komisi untuk orang hilang dan Korban kekerasan (KontraS) dan menjadi Koor bagian pekerja.

Munir memulai karier menjadi pengacara. Ia pun memulai melakukan advokasi dan pembelaan HAM seperti kasus Marsinah, Kasus Naripan dan Kasus Madura yaitu pembunuhan terhadap beberapa petani di Madura. Maka dari itu, Munir dianggap sebagai penghalang jalan dalam melanggengkan kekuasaan. Munir mulai mendapatkan ancaman pembunuhan dari beberapa pihak.

Kecintaan terhadap ilmu hukum membuat Munir memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Amsterdam dan melanjutkan kuliah pascasarjana di Universitas Utrecht, Belanda. Setelah pamit kepada teman-temannya, pesawat Garuda GA-974 yang ditumpangi Munir pun lepas landas dari Jakarta, pada 06 September 2004 pukul 21.55 malam WIB.

Namun dalam perjalanannya ini, Munir Said Thalib mengembuskan napas terakhirnya di langit Rumania pada 07 September 2004, atau dua jam sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam. Otoritas Belanda yang memeriksa jenazahnya kemudian menemukan kandungan arsenik dalam tubuh Munir. Setelah penyelidikan yang panjang akhirnya Pollycarpus Budihari Priyanto ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan Munir. Ia dijatuhkan vonis 14 tahun penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here