PERSAINGAN BISNIS RITEL: TRADISIONAL VS MODERN

0
385

PERSAINGAN BISNIS RITEL: TRADISIONAL VS MODERN

Persaingan dalam industri ritel dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu persaingan antara
ritel modern dan tradisional, persaingan antar sesama ritel modern, persaingan antar sesama
ritel tradisional, dan persaingan antar supplier. (Tulus TH Tambunan dkk, 2004). Diantara
keempat jenis persaingan tersebut, persaingan antara ritel tradisional dan ritel modern paling
banyak mengundang perhatian, karena menempatkan satu pihak (ritel tradisional) dalam
posisi yang lemah. Sehingga hal ini memaksa semua pihak yang terkait (pelaku ritel, asosiasi,
pemerintah, pakar bisnis ritel) berperan aktif bersama-sama menyelesaikan ekses persaingan
tersebut.
Salah satu indikator ketimpangan kekuatan antara ritel tradisional dan ritel modern dapat
dilihat dari segi pertumbuhan kedua jenis ritel tersebut. Federasi Organisasi Pedagang Pasar
Indonesia (Foppi) mecatat, di seluruh Indonesia terjadi penyusutan jumlah pasar tradisional
sebesar 8% per tahun. Pada saat bersamaan, pertumbuhan pasar modern justru sangat tinggi.
Mengambil contoh periode 2004-2007, laju pertumbuhan supermarket mencapai 50% per
tahun. Pada periode yang sama, pertumbuhan hypermarket bahkan mencapai 70%. (SWA
06/XXV/2009). Gambaran pada tahun 2010, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan
bisnis ritel meningkat positif mencapai 6,1%. Sebaliknya, keberadaan ritel tradisional masih
menyisakan berbagai masalah. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Perdagangan
(Kemendag) di 12 provinsi, tercatat ada kurang lebih 3.900 pasar tradisional dan 91%
diantaranya dibangun kurang lebih 30 tahun yang lalu. (Seputar-Indonesia.Com. 25 Maret
2011)
Lokasi keberadaan industri ritel merupakan salah satu titik lemah ritel tradisional.
Menurut Haryadi Sukamdani, Wakil Ketua Umum Bidang Moneter, Fiskal, dan Kebijakan
Publik Kadin Indonesia, lokasi pasar-pasar modern yang menyalahi aturan menyebabkan
ribuan pelaku UMKM di pasar tradisional dan tempat-tempat lainnya terpaksa gulung tikar
karena kalah bersaing dengan pasar modern. Dia menambahkan, di seluruh negara-negara
di dunia, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, hipermarket tidak diperkenankan berada di
tengah kota. Namun di Indonesia, hipermarket atau supermarket justru banyak di tengah kota.
(Liputan6.com, 23 Maret 2011)
Ketidakjelasan regulasi mengenai industri ritel, terutama menyangkut jarak lokasi
ritel, atau pelanggaran aparat pemerintah yang memberikan ijin usaha ritel walau melanggar
aturan, menambah berat upaya melindungi ritel tradisional. Kompas (27 Mei 2011) merilis
berita sedikitnya sembilan minimarket di Jakarta ditutup karena melanggar aturan soal jarak
minimal dengan pasar tradisional. Sebelumnya, Kompas (24 Mei 2011) memberitakan,
Pemprov DKI Jakarta menemukan 46 PNS terbukti melakukan pelanggaran menerbitkan izin
usaha untuk 13 minimarket. Dari 46 PNS ini ada yang sudah meninggal dan pensiun dan
hanya tinggal 13 orang masih aktif bekerja sebagai PNS DKI Jakarta.
Gambaran kusut persaingan industri ritel tradisional dan ritel modern menimbulkan
dorongan untuk menelaah anatomi persaingan tersebut. Tulisan ini merupakan telaah pustaka,
baik berupa penelitian, kajian, liputan dan pemberitaan, dalam upaya lebih memahami
deskripsi mengenai persaingan ritel tradisional dan ritel modern. Pembahasan dimulai dengan
memberikan pengertian ritel tradisional dan ritel modern, kemudian dipertajam dengan
membahas perbedaan karakteristik ritel tradisional dan ritel modern, selanjutnya masuk ke pembahasan persaingan tentang ruang lingkup persaingan ritel tradisional dan ritel modern,
fenomena empiris dari persaingan kedua ritel tersebut, dan terakhir mengenai strategi bersaing
ritel tradisional.
2. Pembahasan
2.1. Pengertian Ritel Tradisional dan Ritel Modern
Bisnis ritel dapat diklasifikasikan menurut bentuk, ukuran, tingkat modernitasnya,
dan lain-lain, sehingga akan ditemukan berbagai jenis bisnis ritel. Namun, pada umumnya
pengertian bisnis ritel dipersempit hanya pada in-store retailing yaitu bisnis ritel yang
menggunakan toko untuk menjual barang dagangannya. Hal ini bisa diamati pada pembahasanpembahasan isu mengenai bisnis ritel, baik di media massa maupun forum-forum diskusi,
tanpa disadari terfokus pada bentuk ritel yang secara fisik kasat mata yaitu toko-toko usaha
eceran.
Regulasi pemerintah mengenai bisnis ritel berada dalam arus pemikiran seperti pada
umumnya karena cenderung menggunakan pendekatan yang membatasi bisnis ritel hanya
pada in-store retailing. Termasuk dalam memberikan batasan mengenai ritel tradisional
dan ritel modern. Perpres No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, memberikan batasan pasar tradisional
dan toko modern dalam pasal 1 sebagai berikut:
– Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk
kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang
dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi
dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan
melalui tawar menawar.
– Toko Modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis
barang secara eceran yang berbentuk Minimarket, Supermarket, Department Store,
Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk Perkulakan. Batasan Toko Modern ini
dipertegas di pasal 3, dalam hal luas lantai penjualan sebagai berikut: a) Minimarket,
kurang dari 400 m2 (empat ratus meter per segi); b) Supermarket, 400 m2 (empat ratus
meter per segi) sampai dengan 5.000 m2 (lima ribu meter per segi); c) Hypermarket,
diatas 5.000 m2 (lima ribu meter per segi); d) Department Store, diatas 400 m2 (empat
ratus meter per segi); e) Perkulakan, diatas 5.000 m2 (lima ribu meter per segi).
Batasan pasar tradisional diatas nampak kurang mewakili pengertian ritel tradisional
secara utuh. Karena, berbeda dengan batasan toko modern yang terperinci mulai dari bentuk
yang terkecil (minimarket) hingga yang terbesar (hypermarket), batasan pasar tradisional
hanya menjelaskan adanya tempat yang luas (atau cukup luas) untuk melokalisasi toko, kios,
dan petak-petak, sebagai tempat usaha milik para pedagang dan tempat masyarakat membeli
barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Oleh karena itu, bila menggunakan klasifikasi bentuk ritel dalam mengkaji persaingan
ritel tradisional dan ritel modern, agar berimbang dengan batasan toko modern yang
terperinci dalam berbagai ukuran, maka perlu ditambahkan jenis ritel ukuran-ukuran kecil
dalam ritel tradisional seperti toko, kios, dan warung yang tidak berada dalam lokasi pasar.

Persaingan antara ritel tradisional dan ritel modern terjadi antara jenis ritel dalam ukuran
yang kurang lebih sama: minimarket dengan toko dan kios di sekitarnya; pasar tradisional
dengan supermarket atau hypermarket.
Ketiga jenis ritel modern: minimarket, supermarket, dan hypermarket, mempunyai
karakteristik yang sama dalam model penjualan, yaitu dilakukan secara eceran langsung
pada konsumen akhir dengan cara swalayan, artinya pembeli mengambil sendiri barang
dari rak-rak dagangan dan membayar di kasir. Kesamaan lain, barang yang diperdagangkan
adalah berbagai macam kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan sehari-hari. Perbedaan
diantara ketiganya, terletak pada jumlah item dan jenis produk yang diperdagangkan, luas
lantai usaha dan lahan parkir, dan mudal usaha yang dibutuhkan. Ketiga jenis ritel modern
tersebut akan tergambarkan lebih jelas dari deskripsi berikut.
Minimarket
Minimarket adalah toko berukuran relatif kecil yang merupakan pengembangan dari
Mom & Pop Store, dimana pengelolaannya lebih modern, dengan jenis barang dagangan
lebih banyak. Mom & Pop Store adalah toko berukuran relatif kecil yang dikelola secara
tradisional, umumnya hanya menjual bahan pokok/kebutuhan sehari-hari yang terletak di
daerah perumahan/pemukiman, biasa dikenal sebagai toko kelontong. (Tambunan dkk,
2004:4)
Pada kelompok Minimarket, hanya terdapat 2 pemain besar yaitu Indomaret dan Alfamart.
Minimarket merupakan jenis pasar modern yang agresif memperbanyak jumlah gerai dan
menerapkan sistem franchise dalam memperbanyak jumlah gerai. Dua jaringan terbesar
Minimarket yakni Indomaret dan Alfamart juga menerapkan sistem ini. Tujuan peritel
minimarket dalam memperbanyak jumlah gerai adalah untuk memperbesar skala usaha
(sehingga bersaing dengan skala usaha Supermarket dan Hypermarket), yang pada akhirnya
memperkuat posisi tawar ke pemasok. (Pandin, 2009)
Supermarket
Adalah bentuk toko ritel yang operasinya cukup besar, berbiaya rendah, margin rendah,
volume penjualan tinggi, terkelompok berdasarkan lini produk, self-service, dirancang untuk
memenuhi kebutuhan konsumen, seperti daging, hasil produk olahan, makanan kering,
makanan basah, serta item-item produk non-food seperti mainan, majalah, toiletris, dan
sebagainya (Sopiah,2008:50-51). Pada kelompok Supermarket, terdapat 6 pemain utama
yakni Hero, Carrefour, Superindo, Foodmart, Ramayana, dan Yogya + Griya Supermarket.
(Pandin, 2009)
Dalam perkembangannya, format Supermarket tidak terlalu favourable lagi. Sebab, dalam
hal kedekatan lokasi dengan konsumen, Supermarket kalah bersaing dengan Minimarket
(yang umumnya berlokasi di perumahan penduduk), sementara untuk range pilihan barang,
Supermarket tersaingi oleh Hypermarket (yang menawarkan pilihan barang yang jauh lebih
banyak). (Pandin, 2009).

Hypermarket
Hipermarket merupakan toko ritel yang dijalankan dengan mengkombinasikan model discount
store, supermarket, dan warehouse store di satu tempat. Barang-barang yang ditawarkan
meliputi produk grosiran, minuman, hardware, bahan bangunan, perlengkapan automobile,
perabot rumah tangga, dan juga furniture. (Sopiah,2008:52)
Pada kelompok Hypermarket hanya terdapat 5 peritel dan 3 diantaranya menguasai 88,5%
pangsa omset Hypermarket di Indonesia. Tiga pemain utama tersebut adalah Carrefour yang
menguasai hampir 50% pangsa omset hypermarket di Indonesia, Hypermart (Matahari Putra
Prima) dengan pangsa 22,1%, dan Giant (Hero Grup) dengan 18,5%. (Pandin, 2009)
Hypermarket menawarkan pilihan barang yang lebih banyak dibanding Supermarket dan
Minimarket, sementara harga yang ditawarkan Hypermarket relatif sama – bahkan pada
beberapa barang bisa lebih murah daripada Supermarket dan Minimarket. (Pandin, 2009)
2.2. Perbedaan Karakteristik Ritel Tradisional dan Ritel Modern
Tambunan dkk (2004) membagi bisnis ritel menjadi 2 (dua) kategori yaitu ritel
tradisional dan ritel modern, yang memberikan gambaran perbedaan antara keduanya
sebagaimana Tabel 1 berikut.
Tabel 1
Pembagian Retail Modern dan Tradisional
Klasifikasi Retail Modern Retail Tradisional
Lini Produk v Toko Khusus
v Toko Serba Ada
v Toko Swalayan
v Toko Convenience
v Toko Super, Kombinasi, dan Pasar
Hyper
v Toko Diskon
v Pengecer Potongan Harga
v Ruang Penjual Katalog
v Mom & Pop Store
v Mini Market
Kepemilikan v Corporate Chain Store v Independent Store
Penggunaan Fasilitas v Alat-alat pembayaran modern
(computer, credit card, autodebet)
v AC, Eskalator / Lift
v Alat Pembayaran Tradisional
(manual/ calculator, cash)
v Tangga, tanpa AC
Promosi v Ada v Tidak Ada
Keuangan v Tercatat dan Dapat Diublikasikan v Belum tentu tercatat dan tidak
dipublikasikan
Tenaga Kerja v Banyak v Sedikit, biasanya keluarga
Fleksibilitas Operasi v Tidak Fleksibel v Fleksibel
Sumber: Tambunan dkk, 2004
Namun, ada satu hal yang perlu dicermati pada pengkategorian bisnis ritel pada tabel
diatas, karena menempatkan minimarket pada kolom ritel tradisional. Sebagaimana telah
dijelaskan, minimarket termasuk dalam ritel modern dilihat dari model pengelolaannya yang
menggunakan metode penjualan dengan cara swalayan.

Perbedaan karakteristik antara ritel tradisional dengan ritel modern diperjelas pada
Tabel 2 berikut.
Tabel 2
Perbedaan Karakteristik antara Pasar Tradisional dengan Pasar Modern
No Aspek Pasar Tradisional Pasar Modern
1 Histori Evolusi panjang Fenomena baru
2 Fisik Kurang baik, sebagian baik Baik dan mewah
3 Pemilikan/ kelembagaan Milik masyarakat/desa,
Pemda, sedikit swasta
Umumnya perorangan/ swasta
4 Modal Modal lemah/ subsidi/
swadaya masyarakat/ Inpres.
Modal kuat/ digerakkan oleh
swasta
5 Konsumen Golongan menengah ke bawah Umumnya golongan menengah
ke atas
6 Metode pembayaran Ciri dilayani, tawar menawar Ada ciri swalayan, pasti
7 Status tanah Tanah Negara, sedikit sekali
swasta
Tanah swasta/ perorangan
8 Pembiayaan Kadang-kadang ada subsidi Tidak ada subsidi
9 Pembangunan Umumnya pembangunan
dilakukan oleh Pemda/ desa/
masyarakat
Pembangunan fisik umumnya
oleh swasta
10 Pedagang yang masuk Beragam, masal, dari sektor
informal sampai pedagang
menengah dan besar
Pemilik modal juga pedagangnya
(tunggal) atau beberapa pedagang
formal skala menengah dan
besar.
11 Peluang masuk/ partisipasi Bersifat masal (pedagang
kecil, menengah dan bahkan
besar)
Terbatas, umumnya pedagang
tunggal, dan menengah ke atas
12 Jaringan Pasar regional, pasar kota,
pasar kawasan
Sistem rantai korporasi nasional
atau bahkan terkait dengan
modal luar negeri, manajemen
tersentralisasi.
Sumber: CESS (1998)
2.3. Ruang Lingkup Persaingan Ritel Tradisional dan Ritel Modern
Persaingan ritel tradisional dan ritel modern meliputi baik faktor internal maupun
faktor eksternal. Dalam kajiannya mengenai dampak keberadaan hypermarket terhadap
ritel tradisional, Indef (2007) menggunakan aspek kinerja (faktor internal) dan, aspek
preferensi konsumen dan regulasi (faktor eksternal). Hasil kajiannya menyatakan, kondisi
usaha dan kinerja pedagang pasar tradisional menunjukkan penurunan setelah beroperasinya
hypermarket. Ini diantaranya menyangkut kinerja: aset, omset, perputaran barang dagangan,
dan marjin harga. Kemudian, analisis preferensi konsumen diterapkan untuk melihat
bagaimana perilaku konsumen dalam menentukan pilihan berbelanja di hypermarket dan pasar
tradisional. Sedangkan pada aspek regulasi, ditelaah juga peraturan perundang-undangan
sektor ritel untuk melengkapi bahan pertimbangan dalam menyusun rekomendasi kebijakan.

Aspek preferensi konsumen, biasanya mencakup: 1) human resource, terkait dengan
pelayanan yang diberikan; 2) merchandise, mencakup jumlah produk yang tersedia,
keanekaragaman jenis produk, dan keanekaragaman merek yang dijual; dan 3) harga, terutama
dalam kaitannya dengan harga yang murah.
Pelayanan yang diberikan oleh retailer biasanya merupakan hal utama yang dicermati
konsumen, karena menyangkut hubungan sesama manusia. Terdapat beberapa aspek
pelayanan yang dievaluasi konsumen, sebagaimana kesimpulan riset yang dilakukan Levy
dan Barton (1995) berikut ini.
Tabel 3
Aspek-aspek Pelayanan yang Dievaluasi Konsumen
Aspek yang tangibles
· Penampilan toko
· Merchandise display
· Penampilan karyawan toko
Pemahaman terhadap pelanggan
· Memberikan perhatian
· Mengenal langganan (regular costumer)
Keamanan
· Perasaan aman di area parkir
· Terjaganya kerahasiaan transaksi
Kredibilitas
· Reputasi menjalankan komitmen
· Dipercayanya karyawan
· Garansi yang diberikan
· Kebijakan pengembalian barang
Reliability
· Keakuratan bon pembelian
· Melayani dengan cepat
· Keakuratan dalam transaksi penjualan
Perilaku yang sopan
· Karyawan yang bersahabat
· Penuh penghargaan
· Menunjukkan sikap perhatian
Akses
· Kemudahan dalam bertransaksi
· Waktu buka toko yang sesuai
· Keberadaan manajer untuk
menyelesaikan masalah
Kompetensi/kecakapan
· Pengetahuan dan ketrampilan karyawan
· Terjawabnya setiap pertanyaan
pelanggan
Responsiveness
· Memenuhi panggilan pelanggan
· Memberikan pelayanan tepat waktu
Informasi yang diberikan kepada pelanggan
· Menjelaskan pelayanan dan biaya
· Jaminan penyelesaian masalah
Sumber: Levy, dan Barton. (1995)
Penelitian dan kajian mengenai persaingan ritel tradisional dan ritel modern tidak
selalu mencakup semua aspek diatas, tetapi lebih banyak yang menggunakan atribut pilihan
yang paling relevan yang akan menjadi persepsi nilai konsumen. Seperti yang dilakukan
Aruman (2008) dalam sebuah kajiannya menggunakan atribut-atribut: 1) Harga murah yang
ditawarkan; 2) Hadiah yang ditawarkan; 3) Lokasi; 4) Keragaman produk; 5) Kecepatan
layanan; 6) Suasana outlet; 7) Merek outlet; 8) Parkir gratis; 9) Luas outlet; dan 10) Keramahan
layanan.
CESS (1998) dalam sebuah penelitian, untuk mengungkapkan alasan utama konsumen
belanja di pasar modern, menggunakan atribut: 1) Tempat lebih nyaman; 2) Adanya kepastian
harga; 3) Merasa bebas untuk memilih dan melihat-lihat; 4) Kualitas barang lebih terjamin;
5) Kualitas barang lebih baik; 6) Jenis barang lebih lengkap; dan 7) Model barang sangat
beragam .

2.4. Fenomena Empiris Persaingan Ritel Tradisional dan Ritel Modern
Penelitian-penelitian dan kajian-kajian yang telah dilakukan oleh para ahli memberikan
gambaran fenomena empiris persaingan ritel tradisional dan ritel modern. Meskipun ada
diantaranya yang membatasi pada persaingan jenis ritel tertentu, misalnya persaingan antara
hypermarket dengan pasar tradisional, atau minimarket dengan toko, kios, dan warung di
sekitarnya, tetapi hasilnya dapat digunakan untuk mewakili gambaran tentang persaingan
ritel tradisional dan ritel modern secara utuh. Demikian pula kadang-kadang tidak bisa
dipisahkan antara aspek kinerja (faktor internal), aspek preferensi konsumen dan regulasi
(faktor eksternal), ketika membahas satu atribut tertentu.
Beberapa atribut berikut akan memberikan gambaran fenomena empiris persaingan
ritel tradisional dan ritel modern.
Omset
Tambunan dkk (2004) menyatakan, dari hasil wawancara tim peneliti dengan beberapa
pedagang di Pasar Mampang Prapatan (Jakarta), diketahui bahwa beberapa pedagang
mempunyai pendapat yang sama tentang pengaruh ritel modern terhadap penjualan mereka.
Sejak adanya ritel modern yaitu Hero Supermarket (di depan Pasar Mampang Prapatan)
dan Golden Truly yang kemudian menjadi Alfa Supermarket (di samping Pasar Mampang
Prapatan) tersebut, para pedagang merasa bahwa pendapatan mereka menurun dari tahun
ke tahun. Penurunan pendapatan ini dikarenakan banyaknya pelanggan mereka yang lebih
memilih berbelanja di ritel modern tersebut daripada belanja di pasar tradisional.
Kajian Indef (2007) menemukan bahwa, omset penjualan pasar tradisional menurun setelah
beroperasinya hypermarket selama periode pengamatan, baik di pasar tradisional yang
jaraknya dari hypermarket dalam radius 5 Km, maupun yang jaraknya lebih dari 5 Km.
Ini terjadi pada hampir semua komoditas, seperti sembako, daging, telur, terigu, dan buahbuahan, kecuali untuk kelompok sayur-sayuran. Lebih lanjut dinyatakan, secara keseluruhan
ternyata adanya hypermarket hanya berdampak negatif terhadap jumlah pembeli di pasar
tradisional yang jaraknya dari hypermarket dalam radius 5 Km. Hal ini menunjukkan bahwa
matinya pasar tradisional lebih disebabkan oleh perubahan selera konsumen.
Fakta bahwa Pasar Tradisional semakin terhimpit – terlihat dari semakin tergerusnya pangsa
omset ritel tradisional dan sepinya pasar-pasar tradisional, membuat pemerintah mengeluarkan
beberapa ketetapan yang mengatur harmonisasi antara pasar modern dengan ritel tradisional
(Pandin, 2009).
Perputaran barang dagangan
Masih dalam kajian Indef (2007) yang sama, baik di pasar tradisional yang jaraknya dari
hypermarket dalam radius 5 Km, maupun yang jaraknya lebih dari 5 Km, sama-sama mengalami
tren penurunan perputaran barang, yang berarti terjadi penurunan aktivitas pasokan barang
kepada pedagang, atau barang lebih lama tersimpan di gudang. Penurunan yang lebih besar
dialami pedagang di pasar tradisional yang jaraknya dari hypermarket dalam radius 5 Km.
Secara umum dapat dijelaskan, bahwa volume dan frekuensi transaksi perdagangan menurun
setelah beroperinya hypermarket, berkait dengan penurunan jumlah pengunjung/pembeli.

Marjin harga
Kajian Indef (2007) yang sama juga menjelaskan, bahwa dari segi tingkat keuntungan, terjadi
penurunan marjin harga yang cukup besar dialami terutama pedagang di pasar tradisional yang
jaraknya dari hypermarket dalam radius 5 Km, setelah beroperasinya hypermarket tersebut.
Para pedagang terpaksa mematok marjin laba yang lebih kecil agar dapat menawarkan harga
komoditas yang tetap bersaing. Ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa tingkat harga di
hypermarket umumnya tergolong murah.
Harga
Salah satu bentuk persaingan antara ritel modern dan ritel tradisional yang sering mendapatkan
perhatian banyak orang adalah persaingan dalam harga. Permasalahan utamanya adalah
bahwa ritel modern terutama skala besar sering menjual produknya dengan harga jauh lebih
rendah daripada harga jual dari produk yang sama di pasar tradisional. Pada tahun 1999,
Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Apindo), menuduh ritel besar seperti hypermarket
dan perkulakan besar semacam Makro, Goro dan Alfa yang menjual produk grosir dan juga
eceran melakukan praktek dumping. (Kotler dan Susanto, 2001 dalam Tambunan, 2004).
Tambunan dkk (2004) mengungkapkan, dari hasil wawancara tim peneliti dengan Public
Relation Manager Carrefour, harga yang lebih murah di Carrefour disebabkan oleh dua hal,
yaitu:
a) Economic of Scale
Semakin besar jumlah yang dibeli dari supplier, semakin besar potongan harga yang
diberikan oleh supplier tersebut kepada Carrefour. Akibatnya, Carrefour juga menetapkan
harga yang murah kepada konsumennya.
b) Sistem pembelian putus dari produsen
Carrefour menetapkan sistem pembelian putus dari produsennya. Akibatnya, produsen
dapat menekan harga menjadi lebih rendah, karena tidak ada faktor risiko yang harus
mereka tanggung.
Kajian Indef (2007) menemukan bahwa, konsumen mendudukkan ”harga yang murah” pada
peringkat pertama kepentingan (paling penting) di antara sepuluh atribut layanan untuk semua
komoditas di pasar tradisional maupun hypermarket. Sementara pasar tradisional memiliki
keunggulan komparatif dalam atribut-atribut: harga murah dan harga dapat ditawar.
Keramahan pelayanan
Dari kajian Indef (2007), dalam hal atribut layanan, yang termasuk prioritas kedua salah
satunya adalah peningkatan pelayanan kepada konsumen (keramahan). Atribut ini memiliki
tingkatan prioritas yang sama baik untuk pasar tradisional maupun hypermarket. Konsumen
menilai bahwa ”keakraban” berbelanja di pasar tradisional yang sering disuarakan sebagai
kelebihan karakteristiknya dibanding hypermarket tidak menjamin kepuasan konsumen akan
segi-segi pelayanan berbelanja. Konsumen semakin mementingkan ”keramahan-formalistik”
dibanding ”keakraban-normatif” sebagai bagian dari ciri-ciri gaya hidup modern.
131
PERSAINGAN BISNIS RITEL: TRADISIONAL VS MODERN
Tri Joko Utomo
Ukuran yang akurat
Hasil kajian Indef (2007), kecuali terhadap consumer goods, konsumen mendudukkan atribut
“ukuran yang akurat” pada peringkat kedua setelah “harga yang murah”. Ini merupakan
indikasi kuat akan adanya praktik ”kecurangan” pedagang di pasar tradisional, seperti takaran
dan timbangan yang tidak standar.
Lokasi
Menurut seorang pakar ritel Koestarjono Prodjolalito, permasalahan utama antara ritel
modern (minimarket, supermarket dan hypermarket) dan ritel tradisional, terutama di kotakota besar seperti Jakarta adalah lokasi, dimana ritel modern dengan kekuatan modalnya yang
luar biasa berkembang begitu pesat yang lokasinya berdekatan dengan lokasi ritel tradisional
yang sudah lebih dulu berada di lokasi tersebut. (Tambunan dkk, 2004)
Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2007 dimaksudkan untuk mengatur pasar
tradisional dan pasar modern. Akan tetapi, banyak pihak menilai perpres itu tak punya gigi
untuk melindungi para pedagang tradisional. (Swa 06/XXV/2009). Kelemahan perpres ini
salah satunya, tidak mengatur jarak atau zonning antara pasar modern dan pasar tradisional.
Perpres No. 112 Tahun 2007 memberikan mandat sangat besar kepada pemerintah daerah.
Regulasi ini selanjutnya diperkuat dengan peraturan daerah, diantaranya mengenai Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota/kabupaten (RTRWK). Kenyataannya, banyak ritel modern yang
dituding melanggar aturan zonasi yaitu jarak minimum antara pasar modern dengan pasar
tradisional.
Suasana outlet (keamanan, kenyamanan, kebersihan)
Kajian Indef (2007) mendapatkan fakta bahwa, konsumen menaruh perhatian yang tinggi
terhadap pentingnya segi-segi keamanan, kenyamanan, dan kebersihan pada saat berbelanja.
Bahwa faktor keamanan menjadi prioritas terpenting yang menuntut kesiapan aparat pembina,
pengawas, termasuk penegak ketertiban/ keamanan. Praktik ’premanisme’ di lingkungan
pasar bukan saja mengganggu kenyamanan konsumen, melainkan kelancaran usaha para
pedagang.
Beberapa atribut lain, seperti: kecepatan pelayanan, jumlah produk yang tersedia,
keanekaragaman jenis produk, keanekaragaman merek, promosi (hadiah dan harga diskon),
luas outlet, jam buka, dan parkir gratis, dapat pula mempengaruhi preferensi konsumen
terhadap keberadaan ritel tradisional dan ritel modern. Kajian keseluruhan atribut tersebut,
walaupun menghasilkan gambaran persaingan ritel tradisional dan ritel modern secara lebih
utuh, namun akan membuat kajian lebih kompleks.
2.5. Strategi Bersaing Ritel Tradisional
Berbagai penelitian dan kajian ahli mengenai persaingan ritel tradisional dan ritel
modern telah menghasilkan banyak masukan yang berguna bagi pasar tradisional sebagai
pihak yang berada pada posisi yang lemah dalam persaingan.
Dengan harapan dapat mewakili konklusi seluruh penelitian yang ada, dapat mengacu
Syatibi (2008) yang dalam penelitiannya memberikan solusi bagi ritel tradisional dalam
132 Fokus Ekonomi
Vol. 6 No. 1 Juni 2011 : 122 – 133
menghadapi tekanan persaingan ritel modern. Ritel tradisional dapat melakukan strategi
bersaing dengan ritel moderen melalui penerapan model strategi pengembangan menangmenang, saling menguntungkan (saling bersinergi), seperti dalam bentuk: a). adanya kolaborasi
antar peritel khusus dalam akses pasar dan serta kolaborasi pemasok dalam mensuplai, produk
yang bermutu; b). Peningkatan pelayanan; c). Mempermudah akses pemberian bantuan
pinjaman modal bagi ritel tradisional agar dapat melakukan perluasan bisnis; d) Pemerintah
sebaiknya lebih memperhatikan Ritel Tradisional, yaitu dalam hal tempat berjualan Ritel
Tradisional dan dalam hal perizinan masuknya Ritel Modern; e) Perbaikan infrastruktur yang
mencakup terjaminnya kesehatan yang layak, kebersihan yang memadai, cahaya yang cukup,
dan keseluruhan kenyamanan lingkungan pasar; f) Usaha bersama (dalam bentuk perjanjian
kerja) antara pemda dan sektor swasta juga dapat menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan
daya saing ritel tradisional; g) Pemerintah harus menertibkan preman dan pungli atau penarikan
iuran gelap yang ada pada ritel tradisional; h) Pemerintah harus menetapkan jarak antara
ritel tradisional dan ritel modern yang berjauhan, serta luas usaha Ritel Modern; i) Zonasi,
yaitu pembagian zona/kawasan untuk jenis ritel tertentu sehingga dapat mencegah persaingan
yang tidak berimbang; j) Perlunya sebuah UU Ritel sebagai kerangka dan landasan bagi
pemerintah dalam mengelola sektor ritel modern agar tidak mematikan ritel tradisional dan
memaksimalkan kontribusi ritel modern pada ekonomi lokal sangat dibutuhkan.
3. Simpulan
Persaingan ritel tradisional dan ritel modern, berbeda dengan jenis persaingan yang
lain, yaitu persaingan antar sesama ritel modern, persaingan antar sesama ritel tradisional,
dan persaingan antar suplier, telah sejak awal menempatkan ritel tradisional pada posisi yang
lemah. Perbedaan karakteristik yang berbanding terbalik semakin memperlemah posisi ritel
tradisional. Penguatan kemampuan bersaing ritel tradisional dengan demikian menuntut
peran serta banyak pihak terutama pemerintah sebagai pemilik kekuasaan regulasi.
Banyaknya atribut persaingan ritel tradisional dan ritel modern dengan masing-masing
permasalahan yang ditimbulkannya, membutuhkan energi yang besar untuk mengurai dan
mencarikan solusi pemecahan. Strategi yang paling mungkin digunakan ritel tradisional
dalam persaingan ini justru bagaimana menjalin sinergi dengan ritel modern, bukan dengan
saling berhadapan untuk saling menyerang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here