Seberapa Penting Psikologi di Masa Pandemi

0
72

Sejak bulan Maret lalu, seketika keadaan berubah karena merebaknya suatu virus yang menggemparkan rakyat seluruh penjuru dunia. Pertama kali saya mendengar berita tentang virus ini, saat saya di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu, salah satu ustadz saya bercerita tentang suatu kasus yang sedang mungkin belum marak diperbincangkan di Indonesia. Karena salah satu kakak kelas kami sedang melanjutkan studi di salah satu universitas di China, Chongqing University, yang terjebak disana dan tidak diperbolehkan untuk pergi kemanapun. Awalnya, saya tidak begitu menghiraukan tentang virus ini. Saya pikir virusnya jauh di China, kemungkinannya kecil untuk mewabah di Indonesia. Tetapi, takdir berkata lain. Satu dua orang teridentifikasi terserang virus ini. Awal semester 2020 memang tidak terlalu banyak yang terinfeksi. Perkiraannya, bulan Juli menjadi puncak dari pandemi ini di Indonesia. Nyatanya, sampai sekarang belum ada penurunan jumlah pasien yang teajngkit virus ini. Korona, pertama kali kita mengenalnya. Dan sekarang lebih familiar denga covid-19. Ada yang mengatakan penyebutan 19 karena virus ini merebak ditahun 2019 dan sekarang tahun 2020. Sudah setahun virus ini merbakkan sayapnya di kancah internasional. Sungguh luar biasa makhluk tak kasat mata satu ini. Tidak peduli siapapun orangnya, dia bisa saja merenggut nyawa. Entah pejabat, artis kelas atas, hingga rakyat menengah kebawah. Tepatnya, virus ini menyerang sistem pernapasan yang bisa masuk melalui mata, hidung, dan mulut. Seperti virus lainnya, korona juga bisa menempel di benda-benda sekitar kita. Utamanya benda yang berbahan besi, virus ini menempel lebih lama. Sehingga kita harus selalu menjaga kebersihan tangan kita sebelum menyentuh wajah, makanan, dan lainnya.

Hingga akhirnya, pemerintah mengambil langkah untuk memutus proses penyebaran virus ini. Ada yang memutuskan lockdown, ada pula yang mengambil langkah untuk tetap beraktifitas dengan menerapkan 3M; menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. Indonesia menjadi salah satu negara yang memeutuskan untuk stay at home, menetapĀ  dirumah, dan melakukan segala jenis kegiatan dari rumah, juga meminimalisir untuk berpergian jika tidak ada keperluan penting dan mendesak. Mulai dari bekerja, pembelajara, hingga perniagaan dilakukan dari rumah.

Memang, kebanyakan anak sekolahan menginginkan libur dalam waktu lama. Terwujudlah sudah keinginan mayoritas anak yang masih duduk dibangku sekolah. Untuk sementara waktu, semua sekolah dari seluruh tingkatan diliburkan dan dimulai kembali dengan cara virtual (dari rumah) atau daring (dalam jaringan). Tentulah dibutuhkan adaptasi dengan keadaan yang seperti ini. Kegiatan belajar mengajar dilakukan via whatsapp grup, zoom, googlemeet, google classroom, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Untuk menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut pastilah dibutuhkan sarana dan prasana yang mendukung seperti smartphone, laptop, dan biaya untuk membeli kuota data. Seperti yang kita tau, tidak semua penduduk Indonesia mempunyai smartphone dan laptop. Bahkan banyak muncul diberita-berita tanah air yang menginformasikan bahwa salah seorang pemuda mencuri di toko emas dengan alasan tidak punya uang untuk membeli samrtphone ataupun kuota. Banyak juga orang tua yang bekerja susah payah untuk membelikan anaknya smartphone sebagai media pembelajaran. Belum lagi hambatan pada sinyal didaerah yang pelosok dan sekitar pegunungan. Kegiatan belajar mengajar pun terhambat dan tidak berjalan lancar.

Satu bulan dua bulan, kejenuhan pun melanda mereka. Mereka mulai tidak betah berada di rumah setiap saat. Parahnya, ada juga yang merasa stres karena bosan. Pada dasarnya, masa sekolah utamanya fase remaja, mereka membutuhkan kegiatan yang bermacam-macam. Karena pada fase tersebut, remaja selalu ingin mengeksplor apa saja yang ingin mereka ketahui. Sementara dirumah, setiap saat setiap waktu yang ditemui adalah orang yang sama dan lingkup yang terbatas.

Begitu juga dengan pekerja-pekerja kantoran dan buruh pabrik. Sebagian dari mereka dirumahkan dan di PHK karena perusahan mengalami kebangkrutan dan tidak mampu membayar mereka. Hingga akhirnya perekonomian di Indonesia menjadi salah satu yang terdampak dari covid-19 ini. Terutama usaha-usaha kecil, driver ojek online, dan pedagang kaki lima. Akibat pandemi ini, pelanggan mereka berkurang dan sebagian dari mereka harus mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidupnya.

Melihat keadaan yang demikian ini, tidak hanya kesehatan fisik yang membutuhkan perhatian lebih. Tanpa kita sadari, psikologis kita juga membutuhkan penanganan dan istirahat. Dengan merasa stres dengan keadaan yang dihadapi, psikis kita merasa tertekan. Selalu berpikir keras, mencari inovasi-inovasi baru, tetapi suasana hati dan tempat sangat tidak mendukung. Sehingga, pikiran kita terus bekerja tanpa adanya selingan sebagai sarana merilekskan diri. Jika psikis kita terganggu, maka bukan jalan keluar yang kita temukan, justru hanya berkutat pada satu titik.

Di sebuah acara televisi, saat itu tengah mengadakan talk show dengan salah seorang publik figur sekalian dengan pasangannya. Mereka mengungkankan bahwa suatu ketika, ditengah mas-masa PSBB atau pembatasan sosial berskala besar, mereka sempat datang ke psikolog karena kondisi mereka benar-benar kacau akibat pandemi ini. Mereka merasa sangat jenuh karena hampir setiap saat mereka bertemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke psikolog untuk membantu menenangkan dan menemukan jalan keluar yang harus mereka ambil.

Tidak hanya stres karena bosan dirumah dan krisis ekonomi, sebagian orang merasa sangat khawatir akan tertular dengan virus tersebut dan terlalu berlebihan dalam bersikap. Sehingga mereka mengalami apa yang biasa disebut dengan paranoid.

Dimasa-masa sekarang ini, psikologi sangat dibutuhkan untuk memperbaiki dan menangani gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh para remaja dan mereka yang terdampak dari pandemi covid-19. Apalagi bagi mereka yang sudah terjangkit virus ini. Pasien yang terkena covid-19, harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Seperti selalu memakai masker dan melakukan karantina mandiri atau isolasi diri dan tidak boleh melakukan kontak fisik dengan orang lain supaya virusnya tidak menularkan ke orang lain dan sebagai sarana pengobatan. Pasien yang terjangkit virus ini harus memiliki imunitas yang kebal terhadap penyakit dan mereka harus menjaga asupan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, rutin mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan imunitas tubuh supaya virus yang ada dalam tubuh tidak menguasai tubuh pasien tersebut.

Kendala yang sering ditemui adalah lagi-lagi tentang kejenuhan dan stres. Saat menjalani karantina atau isolasi mandiri, aktifitas yang bisa kita lakukan juga lumayan terbatas, jarang mengirup udara lepas. Mungkin kita bisa keluar ruangan saat berjemur dibawah sinar matahari, itupun bagi mereka yang tidak menunjukkan gejala-gejala yang serius. Bagi mereka yang terkulai lemah diatas ranjang, mereka hanya bisa disuatu tempat dan tidak tau sampai kapan keadaan yang dialami akan berakhir. Itu merupakan salah satu gambaran dari pasien yang mengalami covid-19.

Untuk mendapatkan imunitas tubuh yang kebal, tidak hanya asuapan nutrisi yang dibutuhkan, tetapi mental dari pasien harus tetap dalam keadaan baik. Supaya hari-hari mereka terlalui dengan dengan riang hati dan mereka selalu bahagia. Mereka harus selalu berpostif thinking dan optimis untuk kembali sehat. Dengan demikian, ahli psikologi juga diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan semangat mereka untuk kembali sembuh.

Lalu apakah psikologi benar-benar dibutuhkan disaat-saat sekarang ini? Sangat diperlukan. Perihal psikologi, tidak melulu tentang psikolog ahli. Semua orang mempnyai peran untuk menangani permasalahan psikologi, tetapi pada bidangnya masing-masing. Sebagai contoh, psikolog di rumah adalah orang tua. Melihat kondisi yang serba terbatas, orang tua harus aktif dalam menciptakan hal-hal baru dan suasana baru agar anak tudak merasa jenuh dirumah. Karena memang pada hakikatnya, tugas orang tua adalah menciptakan suasana rumah adalah tujuan pertama yang dijadikan tempat kembalinya setiap anak. Jadi, sebisa mungkin dan sekreatif mungkin, orang tua menemukan kegiatan dan kebiasaan baru bagi anak. Misalnya, membuat kerajinan tangan bersama, mencoba memasak resep-resep baru, me-make over tempat tidur atau tempat belajar anak, membaca buku bersama, dan lain sebagainya. Sehingga anak tidak mereasa jenuh dan bosan berada dirumah. Bagi orang tua, kegiatan-kegiatan tersebut sebagai hiburan atau refleksi pikiran mereka saat jenuh dengan pekerjaan-pekerjaan mereka. Bukan hanya menghilangkan kejenuhan dan kepenatan saja, hubungan anak dan orang tua pun secara tidak langsung menjadi lebih dekat dan tidak ada sekat.

Disisi lain, anak muda juga berperan untuk memberi hiburan dan penyemangat bagi sesama usianya atau bagi siapapun di masa-masa pandemi. Dengan tetap dirumah, mereka bisa membuat konten-konten kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang saat ini. Seperti membuat tutorial atau tips and trik, bisa juga dengan memberikan informasi-infomasi menarik di media-media sosial. Sehingga, orang lain yang menonton merasa terhibur dan manfaat bagi content creator sendiri, bisa mengasah kemampuan dirinya dan menggali kreatifitas-kreatifitas lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here