Transmigrasi

0
914

Transmigrasi

Oleh : Aris Rohmadi

Pagi itu matahari tampak ramah.  Burung-burung kecil hilir mudik  membawa rumput kering untuk membuat sarang. Dari nenek moyangnya burung dulu, hingga kini bentuk sarang yang dibuatnya tidak pernah berubah.  Rumput-rumput kering itu disusun menyerupai kendi air yang hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai pintu.

Sarang itu tampak cantik sekali menggantung di ranting pohon.  Burung manyar memang termasuk sangat ulung dalam menbuat arsitek tempat tinggalnya. Di dalamnya dilapisi rumput-rumput halus untuk meletakkan telur. Kicauannya nyaring terdengar sangat merdu, membuat senang bagi yang suka burung berkicau.

Fahri tampak duduk termenung. Sesekali ia tersenyum melihat sepasang burung manyar yang sedang bahu membahu membuat sarang. Helai demi helai rumput-rumput kering itu disusun dengan rapi. Angin pun berembus perlahan membelai wajahnya yang tampak murung. Kini, ia seperti melihat bayang-bayang masa lalunya ….

Fahri jadi teringat saatt ia ikut membantu ayahnya, H. Salman adalah seorang pungusaha kayu olahan bahan bangunan. Orang asli Banjar Masin itu seorang pengusaha yang sangat sukses, karena  hanya satu-satunya yang mempunyai usaha kayu di kotanya. Semua orang baik perorangan maupun pemborong semua belanja di depot kayu miliknya. Orangnya ramah dan ringan tangan. Siapapun yang membutuhkan bantuannya pasti dibantu dengan senang hati.

Orang biasa mengenal dengan kayu Kalimantan, meskipun kayu-kayu itu tidak selalu didatangkan dari Pulau Kalimantan. Ada kayu ulin, meranti, merbau, bangkirai, trembesi, meranti, sungkai, dan kamper.

Dari banyak jenis kayu olahan itu, yang paling banyak diminati adalah kayu kamper dan meranti. Kayu kamper berwarna coklat muda hingga coklat kemerahan dan hampir mirip dengan kayu mahoni. Kayu kamper termasuk kayu berkelas.  Sedangkan kayu meranti merupakan kayu yang sering dipergunakan untuk membuat kusen, furniture dan panel. Kayu meranti tumbuh paling baik di daerah Kalimantan. Batang kayu meranti dapat tumbuh hingga 70 meter dengan diameter bisa mencapai 4 meter lebih. Kayu meranti yang bahasa latinnya Mahoni Philipina sering kita temui berwarna coklat kemerahan dan tanpa urat (grain).

Krisis moneter yang terjadi sekitar tahun 1997 itu telah merubah segalanya. Pada Agustus 1997, mata uang rupiah mulai bergerak di luar pakem normal. Rupiah tidak saja bergeliat negatif, tapi lebih dari itu. Rupiah bergerak sempoyongan. Kemudian September 1997, Bursa Efek Jakarta bersujud di titik terendahnya. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk membayar hutang.

Usaha kayu bapak Fahri pun tumbang. Kredit bank macet semua aset terjual untuk menutupi hutang. Kini semua tinggal cerita….

“Assalamu’alaikum, Fahri” kata Kyai Muslih.

Fahri tersadar dari lamunannya.  “Waalaikum salam,  Kyai” jawab Fahri sambil menjabat tangan Kyai Muslih.

“Ini ada informasi dari Kantor Wilayah Transmigrasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, saya dipercaya untuk mencari orang-orang yang mau ikut program transmigrasi pola pesantren. Nanti kamu di sana, karena punya ijazah Sarjana, kamu sebagai transmigran inti yang bertugas membimbing dan membina transmigran umum. Mendapat rumah dan lahan pekarangan seluas setengah hektar, jatah hidup selama dua tahun, dan mendapat lahan usaha satu setengah hektar, serta lahan usaha dua seluas dua hektar, gimana?” tanya Kyai Muslih.

“Ya, Pak Kyai, saya siap! kalau pun nanti istri saya tidak mau, saya siap berangkat dulu!” jawab Fahri dengan hati senang.

“Ya sudah, sana berembuk dulu dengan istri, jangan lupa minta restu kedua orang tuamu!” kata Kyai Muslih.

Akhir tahun 1999 menjelang tahun baru 2000, Fahri bersama keluarga kecilnya akhirnya berangkat ikut program pemerintah transmigrasi pola pesantren. Cintya, istrinya kala itu duduk di semester akhir di salah satu  perguruan tinggi swasta tertua yaitu Universitas Islam Indonesia, yang hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir menyusun skripsi, terpaksa ia tinggalkan karena mengikuti suami. Turut serta bersamanya,  Rendy anaknya yang baru berumur 3 tahun, usia yang baru kenceng-kencengnya minta jajan, dan juga segala jenis mainan anak.

Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh dengan naik Bus Damri. Banyak pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan itu. Sebuah pengalaman baru, karena selama ini Fahri belum pernah pergi jauh dari kampung halamannya.

Kejadian yang tidak terduga terjadi, ketika Bus Melaju memasuki daerah Lampung di daerah Tulang Bawang,  kaca mobil dilempar batu oleh oarang tidak dikenal. Kaca pecah pas berada disamping Fahri duduk. Untung Fahri selamat dari lemparan batu itu. Tetapi anak kawannya yang duduk di bangku persis di depan Fahri, terkena batu dan pecahan kaca. Bus berhenti.

Suasana mencekam, semua panik karena ketautan. Mereka kaget, karena sebagian besar penumpang Bus itu terlelap tidur karena terlalu lelah. Sopir Bus dan kernetnya sibuk memberikan pertolongan pada anak teman Fahri yang darahnya mengucur deras, ia menangis meraung-raung menahan sakit.

Sampai di Balai Transmigrasi Kantor wilayah Sumatera Selatan di Palembang sudah larut malam. Disambut langsung Kepala Kanwilnya dengan sangat ramah.  Fahri dan kawan-kawannya disuruh beristirahat untuk melanjutkan ke lokasi transmigrasi esok pagi.

Perjalanan dari kota Palembang menuju lokasi melalui jalan yang berliku. Jalannya berlubang, banyak kubangan air, sepertinya tidak layak kalau itu disebut jalan raya. Sungguh jauh berbeda dengan jalan-jalan yang ada di Pulau Jawa.

Perjalanan kami berhenti di pinggir Sungai, kata orang ini adalah anakan sungai Musi semua penumpang turun dari Bus, kemudian melanjutkan naikketek, perahu motor untuk melanjutkan perjalanan. Suara mesinnya meraung-raung memekakkan telinga. Tetapi, karena ini pengalaman pertama jadi mereka sangat menikmatinya.

Sepanjang perjalanan, di kanan kiri sungai banyak ditumbuhi pohon bakau, juga pohon nipah, yang ketika itu orang-orang menyangka pohon kelapa sawit, karena belum tahu.

Kehidupan baru pun di mulai. Fahri dan kaan-kawannya harus membiasakan diri dengan alat-alat peertanian seperti, cangkul, parang, sabit, dan lain sebagainya, untuk mengolah lahan pertanian. Semua bibit sayuran dan buah-buahan sudah diberikan pemerintah.

“Ternyata enak ya, jadi warga transmigran. Rumah dikasih, lahan, jatah hidup meliputi : beras, sayur mayur, ikan asin, kacang hijau, dan masih dikasih uang Rp 300.000 setiap bulan selama 2 tahun” kata Jono.

“Ya, enak seperti ini saja, banyak orang yang tidak mau!  Kita harus bersyukur, kita niat hijrah dari Yogyakarta menuju Sumatera ini untuk merubah nasib, kita garap lahan kita sebaik-baiknya” kata Slamet.

“Takut dimakan harimau, karena di Sumatera masih banyak harimau” kata Edy.

“Ya, mereka tidak mau karena tidak mau bekerja keras, slogan mereka, mangan ra mangan sing penting kumpul,” kata Jono

Ketika sedang asyik mengobrol, tampak ada seekor rusa yang sudah kelelahan terperosok masuk parit. Orang-orang yang mengejarnya menangap rame-rame, lalu menyembelihnya ditempat lalu dibagi rata. Mereka pun pesta daging rusa. Seumur hidup baru kali ini dapat menikmati daging rusa yang lembut dan aromanya wangi.

Menjadi warga transmigran itu hanya di tahun-tahun pertama merasa berat, maka harus bahu membahu dalam mempersiapakan lahan pertaniannya. Untungnya, selama dua tahun mereka mendapatkan jatah hidup dari pemerintah, melalui Dinas Transmigrasi.

Warga transmigran yang memang benar-benar ingin merubah nasib, tentu ia akan semangat bekerja untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Bagi yang bermalas-malasan tentu akan tertinggal jauh dengan kawan-kawannya. Tidak sedikit dari warga transmigran yang memilih menjual lahannya dengan harga yang sangat murah, hanya sekedar untuk sangu pulang ke kampung halamannya.

Fahri bersama istrinya merintis pendidikan SD untuk warga trasmigran bersama kawan-kawan yang mempunyai ijazah guru. Karena kesibukannya mengurus sekolah, lahannya tidak terurus. Untung saja warga masyarakat mau mengerti. Mereka dengan suka rela ikut membantu membersihkan ladang dan menananinya sebagai mana warga transmigran yang lain.

“Pak Guru, biar kami yang menggarap lahannya. Pak Guru mengajar anak-anak kami saja,” kata Pak Dulah yang di amin kan kawan-kawan lainnya.

“Terima kasih banyak ya, Bapak-bapak” jawab Fahri dengan ramah.

Sesama warga transmigran memang mempunyai semangat kegotongroyongan yang sangat tinggi. Apa lagi yang datang satu daerah, tentu ikatan kekeluargaannya sangat kuat.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Perekonomian Fahri dan warga transmiran yang lain mulai membaik. Lahan pekarangan yang seluas setengah hektar sudah pada menghasilkan. Ada yang menam semangka, jeruk manis, tetapi ada juga yang menanam kelapa sawit untuk masa depan yang lebih baik

Sayuran, ikan, ayam, entok, semua telah tersedia. Jika ingin makan, semua sudah tersedia tinggal mengambil di pekarangan rumahnya, atau memancing ikan yang masih cukup banyak seperti, baung, gabus, dan betook, tinggal mincing di sungai.

Ketika senja menjelang, burung-burung kecil pulang kesangkarnya, tanda malam segera tiba. Sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Anak-anak berduyun-duyun ke masjid untuk salat berjamah dilanjutkan mengaji sampai waktu isya tiba. Kehidupan semacam ini menjadi pemandangan yang indah menyejukkan hati, sehari-hari di kampung transmigrasi di SP 5 Air Tenggulang.

Pada akhir tahun 2004 pemerintah melakukan pendataan tenaga honorer untuk semua instansi. Semua tenaga honorer yang ikut pendataan, yang SK pengangkatannya sekurang-kurangnya Januari 2005 dan dibiayai menggunakan anggaran pemerintah, semua diangkat menjadi PNS. Fahri dan kawan-kawannya yang berjuang bahu membahu merintis pendidikan di lokasi transmigrasi, semua diangkat menjadi PNS. Mereka sangat bersuka cita. Tidak hanya guru yang diangkat PNS, tetapi tenaga honorer lainnya juga diangakat seperti yang bertugas di Dinas Kesehatan maupun yang bertugas di Dinas Transmigrasi.

Hijrah memang harus dilakukan bagi orang-orang yang ingin merubah nasibnya. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalu tidak kaum itu sendiri mau merubah nasibnya. Pohon pisang saja kalau mau besar buahnya, anak-anaknya harus di pisah dan di tanam di tempat lain. Begitu juga kita, kalau mau maju harus berani merantau meninggalkan kampug halaman untuk menata masa depannya.

Matahari pagi kini bersinar terang, angin bertiup semilir menerpa daun-daun nipah di tepian sungai yang mengalir jernih, sejernih pola pikir warga transmigran yang kini telah hidup kecukupan tiada kurang suatu apa. Berakit-rakit kehulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian  pribahasa ini tentu cocok untuk para transmigran, yang mau hidup bersusah payah di awal-awal penempatannya, untuk merenda hari esok yang lebih cerah. Mempersiapkan masa depan anak cucunya yang lebih baik.

Selesai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here