Elemen Elemen Komunikasi

0
230

6 Elemen elemen Komunikasi

Manusia dalam melakukan Komunikasi, terdapat beberapa elemen didalamnya untuk mendapatkan komunikasi yang baik dan affective. Elemen elemen Komunikasi ini terbagi sbb :

  • Komunikator
  • Pesan
  • Saluran / Media
  • Komunikan
  • Feedback
  • Gangguan

Berikut penjelasan singkat terkait dengan elemen elemen Komunikasi tersebut :

  1. Komunikator

Komunikator disini merupakan sumber atau sipengirim pesan.

Pengirim pesan (komunikator) adalah siapa saja yang ingin menyampaikan ide atau konsep kepada orang lain, mencari informasi, dan mengungkapkan pikiran atau emosi, (Richard L. Daft & Dorothy Marcic).

Komunikator merupakan penyampai pesan, baik itu berupa individu, kelompok atau sebuah organisasi / perusahaan. Komunikator bisa saja seorang pembicara yang berbicara atas nama dirinya sendiri, atau bisa pula gabungan berbagai individu dalam sebuah kelompok atau lembaga yang berbicara atas nama kelompok atau lembaga tersebut (bukan atas nama pribadi).

Komunikator juga dituntut untuk menguasai masalah, sehingga pesan yang disampaikan menjadi jelas dari berbagai aspek, tidak ambigu. Penguasaan bahasa juga diperlukan, agar proses komunikasi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahan persepsi. Bukan hanya bahasa, budaya setiap daerah juga berbeda-beda dan komunikator perlu memperhatikan hal tersebut agak komunikasi yang dilakukannya berjalan dengan efektif.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang Komunikator :

  • Mempunyai Daya Tarik
  • Kepandaian
  • Sikap Komunikator
  • Pengetahuan Komunikator
  • Keadaan Lahiriah Komunikator
  • Memiliki Kedekatan  dengan Khalayak
  • Kesamaan (Similirity)
  • Dikenal Kredibilitas dan Otoritasnya.
  • Menunjukkan Motivasi dan Niat.
  • Memahami Saluran Komunikasi
  1. Pesan

Komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan. Namun, komunikasi efektif hanya berhasil jika pesan tersebut dipahami dan mampu merangsang tindakan atau mendorong penerima untuk berpikir dengan cara baru. Pesan dapat berupa pesan verbal (yaitu pesan yang berupa kata-kata yang diucapkan) dan pesan nonverbal (yaitu pesan yang berupa bahasa isyarat misalnya, gerakan tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, artefak, pakaian, variasi vokal, sentuhan, waktu, dan sebagainya).

Pesan merupakan ide atau gagasan yang disampaikan kepada komunikan. Ide atau gagasan yang ingin disampaikan oleh komunikan harus diolah sedemikan rupa agar menjadi sebuah pesan yang bukan hanya dapat dimengerti, tapi juga menarik bagi komunikan yang menjadi target pesan tersebut. Bergantung kebutuhan, materi pesan bisa bersifat informatif (memberikan informasi), persuasif (meyakinkan), atau koersif (berupa perintah). Agar pesan tepat dan dapat mengenai sasaran, maka pesan harus direncanakan dengan baik. Pesan dirancang sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan komunikator dan komunikan. Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan sebaiknya dapat dimengerti kedua belah pihak dan tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Dan yang paling penting adalah, pesan perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat menarik minat komunikan, memenuhi kebutuhannya dan menimbulkan kepuasan komunikan.

Beberapa yang perlu diperhatikan:

  • Perencanaan Pesan
  • Struktur Pesan
  • Gaya Pesan
  • Himbauan Pesan
  • Kode, Isi dan Perlakuan Pesan
  • Sistematika Penyusunan Pesan
  1. Saluran / Media

Saluran atau media merupakan sarana yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesan kepada komunikan. Secara umum terdapat tiga macam media komunikasi, yaitu media umum, media massa, dan media khusus. Media umum merupakan media yang dapat digunakan oleh semua orang, misalnya telepon, surat, mesia sosial, dan lain-lain.

Media massa merupakan media yang digunakan untuk komunikasi massa (skala masal). Contoh media massa misalnya Koran, majalah, radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkan media khusus merupakan media yang hanya digunakan secara terbatas. Hanya oleh dan untuk orang-orang, kelompok atau organisasi tertentu saja. Misalnya berupa kode atau sandi.

Berbicara mengenai saluran komunikasi ini dapat dibedakan berupa:

  • langsung (tatap muka)
  • media

Saluran komunikasi langsung merupakan aktivitas komunikasi bisa berupa pertemuan tatap muka, forum, diskusi panel, rapat (dengan berbagai jenisnya), ceramah, simposium, konferensi pers, seminar dan sebagainya.

Saluran dengan media dibagi menjadi:

  • media massa
  • non media massa

Media massa ini juga dapat digolongkan menjadi

  • media massa periodic
  • non periodik / evertual

Media massa periodik terbagi lagi menjadi:

  • media elektronik (Misalnya radio, televisi, film dan sebagainya)
  • media cetak (misalnya surat kabar, majalah dan sebagainya)

Media massa non periodik bisa berupa:

  • manusia (contohnya, Sales Promotion Girls / SPG, Juru Kampanye dan sebagainya)
  • benda (misalnya prasasti, buku).

Sedangkan saluran komunikasi dengan non media massa, terbagi menjadi non media massa berupa manusia (Misalnya Kurir), Sedangkan non media massa benda terbagi lagi menjadi  elektronik (misalnya telepon, fak dan sebagainya) sedangkan non elektronik (misalnya surat)

  1. Komunikan

Komunikan merupakan penerima pesan. Pihak penerima pesan sering disebut komunikan, atau Receiver.  Penerima pesan bisa  berupa perorangan atau individu dan dapat juga berbentuk kelompok, massa, dan Lembaga, (Individu atau kelompok yang menjadi sasaran pesan). Penerima adalah tujuan pesan, secara umum ada tiga jenis penerima pesan:

  • Personal
  • Kelompok
  • Massa

Penerima pesan personal misalnya pada komunikasi yang terjadi lewat tatap muka empat mata, lewat sms atau panggilan telepon kepada seseorang. Sedangkan iklan di televisi misalnya, merupakan komunikasi yang penerima pesannya adalah massa (khalayak umum). Agar komunikasi berjalan dengan baik, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi komunikan yaitu:

  • Keterampilan menangkap dan meneruskan pesan yang diterimanya
  • Pengetahuan yang cukup seputar pesan yang akan diterimanya
  • Serta sikap yang siap untuk menerima serta memberI pesan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Tugas penerima adalah untuk menafsirkan pesan pengirim atau yang dikirim, baik itu verbal maupun nonverbal, sebisa mungkin dengan sedikit distorsi. Proses menafsirkan pesan yang dikenal sebagai decoding. Karena kata-kata dan pesan nonverbal kadang berbeda makna bagi orang lain.

Masalah yang sering terjadi dalam proses komunikasi disebabkan beberapa hal sbb :

  • Pengirim tidak jelas dalam menyampaikan pesannya kepada penerima, baik pesan verbal maupun nonverbal.
  • Penerima terintimidasi oleh posisi atau kewenangan pengirim, sehingga terjadi ketegangan yang membuat penerima tidak konsentrasi saat menerima pesan, dan ada ketakutan untuk meminta klarifikasi yang diperlukan.
  • Penerima mendapat pesan yang membosankan atau sulit dipahami sehingga tidak berusaha untuk memahami pesan.
  • Penerima menerima ide-ide baru yang berbeda dengan ideologinya

Situasi sosial merupakan latar belakang dari komunikan dalam menerima pesan, yang disebut sebagai:

  • “frame of reference” (kerangkan acuan)
  • “field of experience” (pengalaman lapangan)

Hal ini dapat dicontohkan komunikan yang hadir pada pertemuan yang terbatas akan berbeda dan memperlihatkan gejala lain dibandingkan
dengan komunikan yang menghadiri pertemuan-pertemuan yang besar. Dalam suatu rapat raksasa, demonstrasi, pawai, kampanye, dapat
dilihat gejala psikis dari komunikan yang ditunjukkan dengan: Emosi, sentiment dan perasaan yang cenderung meninggi, Intelgensia atau
ratio cenderung menurun, atau dengan perkataan lain bahwa pada saat tersebut komunikan lebih banyak menggunakan emosi sehingga
pesan yang disampaikan belum tentu diterima oleh benaknya dan dipahami.

Sebaliknya pada pertemuan terbatas misalnya, di dalam kelas, rapat-rapat terbatas, anjangsana, seminar, diskusi, pada saat tersebut
komunikan lebih banyak menggunakan logika berpikirnya, yaitu menerima saran dan masukan dalam suatu proses mental yang normal.
Dalam hal ini komunikator dapat berusaha mempengaruhi pikiran orang lain dengan mengasosiasikan ide-ide atau gagasan gagasannya.

  1. Feedback

Umpan balik atau feedback merupakan reaksi atau respon yang diberikan komunikan untuk menanggapi pesan yang diterimanya. Feedback adalah dua kata jadian / bentukan dalam bahasa Inggris yang terdiri dari kata feed (artinya: memberi makan) dan back (artinya: kembali). Arti harfiah kata ini adalah “memberi makan kembali”, tapi makna yang sebenarnya adalah “memberi masukan kembali”. Feedback ini bisa berupa feedback negatif maupun feedback positif. Feedback dapat membantu komunikator untuk menilai apakah komunikasi yang dilakukannya efektif atau tidak. Jika feedback yang diberikan positif, berarti komunikasi yang dilakukan efektif. Feedback bisa diberikan secara langsung maupun tidak langsung.  Feedback langsung biasanya terjadi jika komunikan dan komunikator melakukan komunikasi secara langsung, misalnya dalam pembicaraan tatap muka. Feedback langsung bisa berupa komentar maupun gesture tubuh. Sedangkan feedback tidak langsung terjadi jika komunikan dan komunikator tidak dapat melakukan kontak langsung dalam berkomunikasi. Biasanya terjadi pada komunikasi yang melibatkan banyak orang didalamnya (komunikasi massa). Feedback tidak langsung bisa berupa surat pembaca, atau jawaban polling.

Jenis-jenis feedback tersebut sbb:

  • Feedback Positif – Feedback Negatif
  • Feedback Netral – Feedback Zero
  • Feedback Internal – Feedback Eksternal
  • Feedback Verbal – Feedback Non-Verbal
  • Feedback Langsung – Feedback Tidak Langsung

Feedback Positif:

adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memahami, membantu dan mau bekerja sama dengan komunikator untuk mencapai sasaran komunikasi tertentu, dan tidak menunjukkan perlawanan / pertentangan.

Contohnya:

komunikan mengangguk-angguk, memperhatikan dengan serius, mencatat, responsif ketika ditanya.

Feedback Negatif:

adalah isyarat / gejala yang ditunjukkan oleh komunikan yang menandakan bahwa ia / mereka memiliki sikap serta perilaku yang dapat berkisar dari mulai tidak setuju hingga tidak menyukai pesan, cara penyampaian, atau bahkan diri sang komunikator. Segalanya sesuatu yang merupakan lawan dari feedback positif adalah feedback negatif.

Contohnya:

sikap acuh tak acuh, melakukan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang dibahas, mengobrol, mengganggu orang lain, nyeletuk, memotong pembicaraan / interupsi secara tidak sopan, atau keluar ruangan / walk- out tanpa izin dari komunikator, dan sebagainya.

Feedback Netral:

adalah jenis feedback yang sulit untuk dinilai sebagai isyarat / gejala yang menunjukkan respon positif atau negatif. Dengan kata lain feedback netral adalah feedback yang tidak jelas wujudnya; apakah itu positif atau negatif.

Contohnya:

perilaku diam ketika ditanya mengerti atau tidak.

Feedback Zero:

adalah feedback yang sulit dimengerti oleh komunikator. Komunikator tidak tahu harus menafsirkan isyarat / gejala yang muncul dari komunikan.

Contohnya:

ada yang tertawa ketika komunikator tidak sedang menyampaikan hal yang lucu, tiba-tiba ada yang menangis, dan sebagainya.

Feedback Internal:

adalah yang menunjukkan sumber dari isyarat / gejala yang menjadi feedback. Bila itu muncul dari dalam diri komunikator, maka itu disebut feedback internal. Maksudnya, misalnya ketika komunikator telah mengatakan sesuatu, tapi kemudian ia ingat sesuatu dan meralat apa yang telah ia katakan, maka yang kita lihat itu dapat kita katakan sebagai hal yang terjadi karena ada feedback internal pada diri komunikator.

Feedback Eksternal:

adalah feedback yang munculnya berasal dari komunikan. Dalam hal ini komunikan dapat menunjukkannya dengan memberikan ekspresi wajah tertentu, gerak-gerik, perilaku atau bahkan suara-suara yang muncul ketika komunikasi tengah berlangsung.

Feedback Verbal:

menunjuk pada bentuk atau wujud dari apa yang disampaikan komunikan sebagai reaksinya pada suatu perilaku komunikasi tertentu yang sedang berlangsung. Contoh dari feedback verbal misalnya adalah interupsi (memotong pembicaraan), nyeletuk (menyampaikan komentar secara spontan ketika komunikator sedang menyampaikan pesannya), atau dapat pula berupa secarik kertas yang ditulisi yang mengatakan sesuatu kepada yang sedang berbicara agar ia segera berhenti karena waktu untuknya sudah habis. Pesan komunikasi verbal adalah yang bentuknya merupakan wujud dari penggunaan bahasa. Artinya, bisa berupa lisan atau tulisan.

Feedback Non-Verbal:

adalah yang wujudnya bukan berupa lisan atau tulisan, tapi feedback nonverbal berupa ekspresi wajah, gerak-gerik, cara duduk, cara berdiri, cara menatap, bentuk senyuman, isyarat tangan, dan sebagainya.

Feedback langsung (immediate feedback):

adalah feedback yang ditunjukkan ketika komunikasi sedang berlangsung

Feedback tidak langsung (delayed feedback):

adalah feedback yang disampaikan ketika komunikasi telah selesai.

Beberapa ahli komunikasi tidak sepakat dengan adanya dua jenis feedback ini. Alasannya adalah, feedback seharusnya adalah sesuatu yang tampak / dapat diidentifikasi keberadaannya ketika sebuah proses komunikasi tengah berlangsung, bukan sesudahnya. Bila sesudahnya, maka itu berarti merupakan respon atau tanggapan.

Konteks dua jenis feedback ini adalah pada perbandingan antara komunikasi interpersonal dan komunikasi massa. Pada komunikasi interpersonal, jelas untuk sebagian besar feedback-nya akan bersifat langsung atau segera. Artinya, orang yang berbicara / komunikator akan dapat segera mengetahui bagaimana reaksi komunikan ketika ia sedang menyampaikan pesan tertentu (karena situasinya tatap muka). Ini berbeda dengan komunikasi massa. Surat kabar, misalnya. Para pembaca tidak dapat memberikan feedback yang segera. Feedback mereka dapat disampaikan melalui surat pembaca yang biasanya waktunya adalah cukup lama sejak apa yang ditanggapi terbit atau dibaca oleh komunikan, sehingga surat pembaca dapat dijadikan contoh sebagai feedback tidak langsung.

  1. Gangguan

Gangguan (Noise) dalam proses komunikasi  diidentifikasi sebagai        sesuatu yang mengganggu penerima dalam memahami pesan. Hambatan atau gangguan merupakan faktor-faktor yang menyebabkan terhambatnya proses komunikasi. Gangguan dalam proses komunikasi bisa mendistorsi pesan. Gangguan ini bisa menyebabkan kesalahan pemaknaan pesan oleh komunikan, sehingga pesan tidak tersampaikan dengan baik, dan komunikasi tidak berhasil dilakukan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila hal ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan tersebut bisa berasal dari komunikator, pesan, saluran ataupun komunikan. Gangguan yang berasal dari komunikator misalnya jika komunikator tidak kompeten, tidak dapat menguasai situasi ketika menyampaikan pesan. gangguan pesan misalnya ketika pesan tidak sepenuhnya tersampaikan atau terpotong, atau jika pesan menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh penerima. Gangguan yang berasal dari saluran seringkali terjadi pada media elektronik, misalnya gangguan telepon. Sedangkan gangguan pada komunikan misalnya komunikan kurang mendengarkan atau pengetahuan komunikan mengenai pesan yang disampaikan kurang memadai. Gangguan ini juga dapat dijabarkan berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologi (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna).

Berikut ini adalah macam gangguan yang dapat dijabarkan sbb:

  • Gangguan Lingkungan / Fisik

Gangguan lingkungan kadang-kadang disebut juga gangguan fisik, yang berarti segala sesuatu yang berada di luar baik pengirim dan penerima yang mengganggu pengiriman atau penerimaan pesan. Contoh kebisingan fisik termasuk suara musik yang keras, telepon berdering, dengung unit AC, orang-orang mengobrol keras di belakang Anda, bunyi klakson mobil, tata bahasa yang buruk dan sebagainya. Semua itu dapat menghalangi penerima dalam mendengar atau melihat pesan, atau mengalihkan perhatian penerima dalam memperhatikan pesan. Gangguan fisik  mengacu pada hambatan fisik yang sebenarnya. Pada pengirim atau penerima yang menyebabkan pesan mengalami kesulitan untuk disampaikan.

  • Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis adalah gangguan mental pada pengirim dan                   penerima pesan. Termasuk perasaan seperti cinta, kebencian atau iri.

  • Gangguan Semantik

Gangguan semantik kadang-kadang dikelompokkan dengan gangguan psikologis, tetapi sering didefinisikan secara terpisah. Gangguan ini dalam proses komunikasi yang terjadi ketika pengirim dan penerima memahami kata-kata yang berbeda, dan menerapkan makna kata-kata yang berbeda. Beberapa contoh gangguan semantik adalah dialek bahasa yang                   berbeda,

komunikator menggunakan jargon khusus, atau kata-kata abstrak dengan yang multi tafsir. Ada banyak gangguan semantik yang terjadi ketika pesan dijabarkan dari satu bahasa ke bahasa lain, karena terjemahan langsung tidak selalu akurat.

Demikian yang dapat saya sampaikan terkait 6 elemen – elemen Komunikasi, untuk kurang lebihnya dapat ditambahkan sebagai bahan pembelajaran.

Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here