Filsafat Ilmu: Hermeneutika

0
281

HERMENEUTIKA

 

Pengertian Hermeneutika

Menurut epitemologi, kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani dari kata hermeneuein yang artinya “menafsirkan” dan kata hermeneia yang artinya “interpretasi”.[1] Kata hermeneuein  ini juga diasosiasikan dari nama suatu dewa, yaitu Dewa Hermes.[2] Dewa Hermes buertugas untuk menyampaikan wahyu dari Jupiter kepada manusia. Dewa Hermes juga bertugas untuk menerjemahkan pesan Tuhan dari gunung Olympus yang di mengerti oleh manusia. Secara terminology atau istilah ada beberapa pendapat atau definisi tentang hermeneutika dari beberapa para filsuf terkemuka. Menurut F D. Ernest Schleirmacher bahwasanya hermeneutika merupakan seni untuk memahami dan menguasai karena yang diharapkan dalam hermeneutika sendiri bagi para pembaca untuk memahami karyanya daripada pengarang itu sendiri. Sedangkan menurut Martin Heidegger dan Hans George Gadamer menjelaskan bahwasanya hermeneutika ialah suatu proses yang bertujuan untuk menjelaskan hakikat dari suatu pemahaman.[3]

Macam-Macam Definisi Hermeneutika

Adapun penjelasan sedikit tentang macam-macam definisi daripada hermeneutika sebagaimana berikut:

  1. Hermeneutika Sebagai Teori Eksegesis Bibel (Abad ke-17)

Hermeneutika merupakan kaidah-kaidah yang terkandung dalam buku-buku interpretasi kitab suci (skriptur). Hermeneutika sendiri pada awalnya juga merupakan teori penafsiran Bibel dan hal ini mempunyai justifikasi historis. Dalam kamus bahasa Inggris, Oxford English Dictionary memperkuat hal tersebut yang mencantumkan kata hermeneutika sebagai salah satu entrynya pada tahun 1737 yang artinya: “bersikap bebas dengan tulisan suci, seperti sama sekali tidak diperkenankan menggunakan beberapa kaidah yang kita ketahui dari sekedar hermeneutika seperti apa adanya”.

  1. Hermeneutika Sebagai Metode Filologis

Filologi merupakan studi tentang budaya dan kerohanian suatu bangsa dengan menelaah karya sastranya atau sumber-sumber lainnya.[4] Metode filologi ini digunakan dalam Bibel secara lebih sempurna, karena telah berjalannya dan berbedanya ruang dan waktu sehingga membutuhkan usaha yang lebih untuk memahami pesan Bibel, terutama Perjanjian Baru agar relevan dengan zaman. Pada hakikatnya Hermeneutika Bibel ialah suatu definisi lain dari metodologi filologi, karena kedua hal tersebut tidak dapat bisa dipisahkan.

  1. Hermeneutika Sebagai Ilmu Linguistik

Menurut Schleirmacher, hermeneutika bukan sekedar ilmu, tetapi juga sebagai seni memahami. Hermeneutika ini disebut sebagai hermeneutika umum (allgemeine hermeneutik) yang prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fondasi bagi semua ragam imterpretasi teks.

  1. Hermeneutika Sebagai Fenomenologi Dasein dan Pemahaman Eksistensial (abad ke-20)

Menurut seorang eksistensialis Martin Heidegger, eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang mempunyai prinsip darsar “eksistensi mendahului esensi”. Apa yang dikatakan eksistensi adalah manusia. Dia menggambarkan suatu fakta dengan kalimat seperti berikut “alam tidak mungkin ada tanpa adanya aku, atau aku tidak mungkin ada tanpa adanya alam”.[5] Menurut Heidegger juga, bahwasanya manusia selalu “membelum” atau belum dan belum meraih eksistensinya. Jadi, fenomenologi dasein (da: disana, sein: berada), istilah tersebut digunakan oleh Heidegger untuk menunjuk pada manusia yang bereksistensi. Fenomenologi merupakan ilmu tentang fenomena manusia dalam bereksistensi lewat kegiatan kegiatan menafsirkan sesuatu. Sedangkan ideology eksistensial merupakan suatu pemahaman yang didasari pada eksistensi manusia.

Ruang Lingkup Hermeneutika

Apakah yang akan dibahas dalam hermeneutika? Sebagian besar ada yang menjawab dengan sederhana, hermeneutika merupakan model pikiran dan perenungan filosofis yang bertujuan untuk menjelaskan pengertian atas pemahaman (verstehen understanding).

Adapun pendapat ataupun juga ruang lingkup hermeenutika:[6]

  • Hermeneutika Khusus (regional hermeneutics)

Hermeneutika Khusus merupakan sebagai cabang dari disiplin ilmu. Setiap medan ilmu memiliki hermeneutikanya masing-masing dan digunakan untuk medannya yang khusus sesuai bidang ilmunya.

  • Hermeneutika Umum (general hermeneutics)

Hermeneutika umum ialah yang tidak terkait dengan cabang ilmu-ilmu tertentu. Hermeneutika ini menggabungkan semua cabang-cabang ilmu untuk memahami. Pencetusnya adalah Friedrich Schleirmarcher (1768-1834). Hermeneutika ini tersusun dari beberapa kaidah dan dasar-dasar umum yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan yang mengendalikan proses pemahaman secara benar.

  • Hermeneutika Filsafat (hermeneutical philosophy)

Objek daripada hermeneutika fisafat sendiri bukan hanya teks yang dipahami, akan tetapi pemahaman itu sendiri yang ditempuh dengan perenungan filosofis. Hermeneutika ini tidak mengenal kaidah-kaidah untuk meraih kebenaran akan pemahaman, melainkan tidak mengenal kebenaran melalui metode ilmiah.

[1] Richard E. Palmer, Interpratation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, terj. Mansur Hery & Damanhuri M, Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 14.

[2] Ibid., hal 15.

[3] Fahmi Salim, Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, hal 53-55.

[4] Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, hal. 178.

[5]  Muhammad al-Husaini Ismail, al-haqiqah al-mutlaqah, terj. Alimin (Kebenaran Mutlak), hal. 558.

[6] Fahmi Salim, Kritik, op. cit., hal. 56-57.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here