Harapan Selalu Ada

0
254

Harapan Selalu Ada

Allah Swt berfirman, “Telah pasti datangnya ketetpan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.” (QS. An-Nahl: 1).

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarkan bayi dari kandungan sebelum waktunya lahir, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan tak dapat diraba, belum terwujud, dan tidak memiliki rasa atau warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan menyertainya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meneropong bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan mendapati kesenangan atau kesedihan.

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tau bahwa  kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti di jalan sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya. Dan, bisa jadi pula kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudia menyeberanginya.

Syari’at yang memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk angan-angan yang terlalu jauh. Secara nalar, tindakan itupun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu bagian dari kurikulum yang diajarkan di “sekolah-sekolah dunia lain”.

Ingatlah kepada firman Allah, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia,” (QS.Al-Baqarah: 268).

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di genggaman orang lain tentu tuda akan mengandaikannya untuk sesuatu yang tidak ada,dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, jangan pernah menyelidikinya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini anda sudah sangat sibuk.

Jika anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan. Sebab, itu adalah hal yang sangat konyol. Oleh karena itu, jangan bersedih! Ingat, sesungguhnya allah bersamamu.

900% Inti sari Laa Tahzan

Bagian-bagian Terpenting dari Kitab Laa Tahzan

Karya Dr. ‘Aidh ibn Abdillah Al-Qarni

Penyunting City Ardhillah ‘Azz

https://www.slideshare.net/dhaniedhona/la-tahzan-jangan-bersedih-aidh-alqarni-46825544

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here