Kekuatan Kesederhanaan

0
166

KEAJAIBAN DARI “KESEDERHANAAN”

 

 

Antusiasme masyarakat Indonesia atas kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi, benar fenomenal. Melebihi antusiasme atas kedatangan Barack Obama, Presiden negadara adi daya Amerika Serikat, yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Menteng, Jakarta. Melebihi antusisme puluhan kepala negara waktu hajatan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Bahkan kehadiran kepala-kepala negara Lingkar Asia Pasifik (IORA), antara lain Afrika Selatan, Yaman, India, Srilanka, Australia, yang seakarang mulai berdatangan di Jakarta, seperti tidak terdengar apa-apa, karena fokus masyarakat masih tertuju kepada Raja Salman dan rombongan yang lagi berlibur di Bali.

Yang paling sering jadi sorotan dari Raja Salman adalah kemewahan hidup dan fasilitasnya sebagai Raja dari Negara Petrodollar, penghasil emas hitam terbesar dunia. Mulai dari jumlah kekayaan pribadi Rp 200 T, pesawat pribadi supermewah dengan peralatan pendukung, termasuk liburan di Bali dengan 1500 orang dengan hotel termewah. Menghabiskan ratusan miliar untuk berlibur.

Apakah Raja Salman dan rombongan memang suka hura-hura dan menghamburkan kekayaannya dengan pola hidup bermewah-mewah? Mungkin bagi kita, rakyat Indonesia, hal itu terasa berlebihan. Bisa menimbulkan persepsi Raja Salman sebagai hubbud dunya (cinta dunia). Benarkah demikian?

Ternyata ada yang lebih menarik dari Raja Salman ini, yaitu pribadinya ternyata sangat sederhana. Humble (bersahaja). Tidak merasa canggung berdekatan dengan orang biasa, suka menyapa rakyat jelata yang mengelu-elukannya. Pola makannya juga ternyata sederhana, berusaha meniru pola makan Rasulullah SAW. Kurma adalah konsumsi wajib beliau, walaupun beliau bisa memesan makanan paling mahal dan paling enak di muka jagad raya ini (ada lho, sepotong kue yang harganya 200 jutaan).

Cara berpakaian beliau juga sederhana. Selain pakaian resmi sebagai raja, beliau tidak terlihat memakai perhiasan dan asesoris yang mewah. Sangat kontras dengan Hotman Paris Hutapea, seorang Pengacara terkenal Indonesia, yang kekayaannya mungkin “hanya” seperseratus kekayaah Raja Salman, sangat suka memakai jam tangan, cincin, kalung, kaca mata berharga miliaran Rupiah.

Liburan mewah berbiaya ratusan miliar Rupiah? Bagi Raja Salman tentu tidak ada apa-apanya, masih terbilang sederhana. Sangat wajar beliau sekali-sekali memanjakan diri dan keluarganya berlibur dengan biaya yang tidak sampai satu persen kekayaannya. Yang jelas, biaya liburan beliau sekeluarga masih jauh dibawah sedekah dan amal jariah lainnya. Bandingkan, untuk renovasi Masjidil Haram beliau menghabiskan dana tidak kurang dari Rp 20 T, dan biaya renovasi Mesjid Nabawi Rp 16 T, belum termasuk pembebasan lahan di sekitar Mesjid, yang mana orang berebut lahannya dibebaskan, karena polanya “ganti untung” bukan “ganti rugi”.

Bandingkan dengan kita, yang sering berlibur dengan biaya 10% dari kekayaan kita, bahkan tidak jarang ngutang duluan, bukankah itu sebenarnya jauh lebih mewah? Yang jelas biaya liburan kita masih jauh di atas sedekah.

Kesederhanaan Adalah Kekuatan

Justru  kekuatan Raja Salman itu ada pada kesederhanaannya. Seperti diteladankan oleh Rasulullah, bahwa kesederhanaan itu membawa kita lebih dekat kepada Allah dan fokus berbuat untuk umat. Abu Bakar Siddiq, awalnya adalah saudagar yang kaya raya, lalu beliau memilih hidup sederhana dengan mendermakan seluruh hartanya ke jalan Allah. Abu Bakar Siddiq merasa sangat dekat dengan Allah, dan Allah telah mencatat nama Abu Bakar Siddiq sebagai salah satu pewaris surga yang seluas langit dan bumi.

Kesederhanaan Raja Salman membuat beliau fokus berpikir tentang rakyatnya. Beliau tidak segan-segan membagikan bonus ratusan triliun Rupiah kepada rakyatnya, menjamu tamu-tamu Allah yang berhajji dan umroh gratis, menyediakan berbagai fasilitas agar jemaah hajji dan umroh merasa nyaman, mendirikan fasilitas-fasilitas publik gratis bagi rakyatnya, memberikan sumbangan yang besar bagi negara muslim lain yang membutuhkan. Dari kesederhanaan itulah timbul kecintaan rakyatnya.

Di Indonesia, kesederhanaan digambarkan juga oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Kesederhanaan yang membuat mereka lebih fokus berpikir tentang rakyat, walaupun beliau-beliau punya kesempatan besar untuk memperkaya diri dan keluarga. Dampaknya, seluruh ucapan beliau mampu menggerakkan jutaan rakyat, tindak tanduk dan pola hidup beliau menjadi teladan rakyat.

Nah, kalau kita, dengan kesederhanaan yang sudah kita miliki saat ini, bukankah juga menjadi kesempatan untuk bisa berbuat lebih banyak untuk agama Allah dan umat tanpa harus harus mendapatkan pamrih duniawi? Mudah-mudahan kita yang sederhana namun mampu memberikan manfaat yang besar, bisa bersatu dengan Rasulullah SAW, Para Sahabat, Raja Salman di surga-Nya kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here