Untuk Apa Jabatan?

0
30

JABATAN ITU UNTUK APA?

Oleh : Jon Hardi

Pemilihan pemimpin (seperti presiden, gubernur, wlikota/bupati, dan kepala desa) selalu terasa meriah, kata lain dari panas. Para calon begitu menggebu-gebu  untuk memperoleh jabatan itu. Mulai dari kampanye berbiaya mahal, politik uang, sikut menyikut, bersengketa  di pengadilan, perilaku mistis, sampai bentrokan antar pendukung.

Jabatan itu demikian menggirukan. Meskipun para pemimpin selalu bilang diberi amanah, dipercaya, ditugasi, tapi kenyataannya jabatan itu tetaplah sesuatu yang harus diperoleh dengan cara apapun.

Ada apa di balik jabatan itu? Kenapa orang sedemikian ingin meraihnya?

+++

Penyakit Megalomania

Bagi sebagian orang, jabatan bisa jadi manifestasi dari penyakit megalomania yang diidapnya. Jabatan yang kemudian berarti kekuasaan, dan kekuasaan yang berarti segala-galanya. Jabatan memungkinkan dia menguasai orang, menentukan nasib orang. Jabatan mengidentikkan dirinya sebagai wakil Tuhan, atau mengaku Tuhan. Jabatan adallah surat izin membunuh.

Dunia telah mencatat bagaimana orang begitu jumawa dengan jabatannya. Tidak jarang orang tipe ini menghiasi kekuasaannya dengan kubangan darah dan danau air mata. Sebut saja Firaun, Namruz, Hitler, Musollini dan (George Bush?).

Di Indonesia, negara yang demokratis, penyakit megalomania ini tidak mungkin tersalurkan. Begitu banyak batasan bagi suatu jabatan. Presiden, Gubernur, Walikota/Bupati tidak terkecuali Kepala Desa, semua ada batasannya. Jadi kalau punya penyakit megalomania, jangan bermimpi jadi pejabat di Indonesia, kecuali jadi raja hutan.

 

 

Demi Harta?

Ada yang mencari jabatan demi harta, karena jabatan memudahkan meraih lebih banyak harta. Pejabat wajib kaya agar dihormati khalayak. Punya jabatan tapi tidak punya harta adalah aib, terhina. Di zaman feodal, raja hidup mewah dan melimpah, tidak peduli rakyatnya bisa makan atau tidak.

Ratu Elizabeth II dari Inggris dan Sultan Hassanal Bolkiah masing-masing tercatat sebagai salah satu wanita dan pria terkaya di dunia.

Di Indonesia, sekarang, tidak bisa berharap dapat banyak harta dari jabatan. Wakil rakyatnya galak meski ikut ditangkap jika maling. KPK tidak kenal ampun. Kejaksaan rajin mengejar meski anggotanya ikut jadi sasaran. Kepolisian rajib menggeledah pejabat yang diduga punya kekayaan dengan cara tidak wajar, meski pentolannya juga ikut dijebloskan ke penjara karena ketahuan korup.

Demi Wanita?

Bagi pria, jabatan adalah lambang kejantanan. Kejatanan harus disimbolkan dengan dikelilingi banyak wanita, setidak-tidaknya digilai wanita. Ingat solgan 3 TA (Tahta, Harta dan Wanita)? Di zaman dulu Raja boleh punya istri dan selir sebanyak yang dia suka. Yang takut punya istri atau selir banyak, setidak-tidaknya punya istri simpanan atau pacar gelap.

Di Indonesia tujuan ini sukar dicapai. Undang-Undang Perkawinan masih menganut asas monogami. Wanitanya sangat sadar emansipasi. Bagi masyarakat punya istri lebih dari satu adalah kenistaan.

Demi Popularitas?

Jadi pejabat memang enak. Kemana-mana selalu jadi perhatian. Disambut dengan karpet merah, kalungan bunga, tari persembahan. Berjalan, duduk, selalu di depan. Makan selalu didahulukan. Jadi sorotan di mana-mana. Semua mengenalnya.

Tapi zaman sekarang Pejabat tidak selalu identik dengan ketenaran. Seseorang yang dengan susah payah meraih jabatan bisa jadi kalah polularitas dari seorang artis atau olahragawan. Mana yang lebih populer Menteri Pendidikan Nasional dengan Agnes Monica? Geroge Bush tidak lebih ngetop dari Silvester Stallone atau David Becham. Jadi, kalau Cuma cari popularitas, tidak perlu ngoyo jadi pejabat.

Aktualisasi Diri?

Memiliki jabatan, bisa jadi sebagai aktualisasi diri. Sesuai dengan teori hirarkhi kebutuhan ala Maslow, aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi manusia. Bagi suatu entitas masyarakat jabatan adalah harga diri. Kepala Desa berarti menjadi Jawara di anatar seluruh Jawara. Kalah dalam pertarungan pemilihan gubernur berarti menjatuhkan martabat diri, keluarga, kerabat, suku dan golongan.

Mendapat jabatan berarti kemenangan. Kemenangan adalah puncak manifestasi aktualisasi diri. Akibatnya orang berlomba-lomba untuk menang, tidak siap untuk kalah.

Kalau begini, untuk apa ada proses pemilihan yang berbiaya mahal? Untuk apa kompetisi yang berakibat pada menang dan kalah? Untuk apa kemana-mana mengusung nama demokrasi?

Untuk Beramal?

Bagi sedikit orang (jika masih ada), jabatan berarti amanah. Amanah dari Allah, amanah dari umat. Amanah dari Allah, karena Allah menjanjikan pemimpin yang adil akan menjadi orang pertama yang  akan masuk surga, tempatnya berdampingan dengan Rasulullah SAW. Jabatan adalah sarana melakukan perbaikan dan menghilangkan kemungkaran, sebagaimana anjuran Rasulullah agar kita mencegah keengkaran dengan tangan (jabatan).

Karena jabatan adalah amanah, jabatan tidak perlu dikejar. Rasulullah SAW pernah melarang memberikan jabatan kepada orang yang mengejarnya.

Jabatan adalah musibah. Pernah seorang Sahabat Rasulullah SAW menggigil ketakutan tatkala ditunjuk menjadi Gubernur oleh Khalifah Umar bin Khatab.  Takut membayangkan azab Allah jika tidak bisa mengemban amanah. Dia lebih suka mengucapkan ”innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kita ini dari Allah dan akan kembali keada Allah)” sebagaimana lazimnya diucapkan tatkala dapat musibah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here